• SMK MUHAMMADIYAH 5 KISARAN
  • SMK Bisa-Hebat (Berilmu, Beriman, Berakhlak dan Beramal)

Hidup Kok Ogah Ribet

Kebayang nggak sob, gimana jadinya kalo internet hilang dari bumi? Padahal hari ini seluruh aktivitas manusia sangat lekat dengan internet. Apapun yang kita butuhkan bisa kita dapatkan dengan sentuhan jempol saja. Scin care abis langsung gerakan jempol untuk checkout, kamu bingung tanya Om Google, saking pinternya Om Google pasti langsung ngasih feedback. Gak bakalan kayak doi kalo lagi ngambek ditanya diem saja. Sifat instan, efisien, fleksibel emang jadi ciri-ciri yang sangat dekat dengan Gen Z.

Internet dan teknologi memang seperti mata uang, di satu sisi kehadirannya memudahkan kita dan membuat lebih mandiri, di sisi lain kita jadi menginginkan semua hal dengan instan. Dari urusan menyelesaikan pendidikan sampai urusan belajar agama. Hayo siapa yang nyelesain tugas yang deadlinenya besuk tapi baru dikerjain selepas subuh? Udahlah gitu nanyanya ke Om Google lagi. Masa iya pemuda yang menyandang status agent of change ngerjain tugas pake sistem kebut semalam?
Nggak berhenti sampai situ aja kita jadi tahu A sampai Z tentang agama dari channel sosmed dengan begitu mudahnya. Walopun kadang kita masih pilih-pilih mana pendapat yang cocok buat kita…upsss.

Karakter instan yang melekat pada diri kita sebenarnya berperan besar dalam pembentukan mental. Generasi hari ini terbiasa mencari informasi yang lebih sederhana. Daripada membaca buku, kita lebih percaya membaca berita yang sudah disederhanakan di IG dengan judul yang nendang. Ditambah lagi kita jarang memvalidasi apakah berita yang kita baca benar-benar bisa dipercaya sumbernya alias valid. Semakin mudah mengakses informasi sebanding juga semakin banyaknya kita terkena hoax, sebab siapapun bisa mengunggah informasi, siapapun bisa mengomentarinya.

Sadarilah sob, jika setiap hari kita mengonsumsi informasi yang tidak valid, efek yang ditimbulkan buka hanya sehari dua hari, melainkan akan menjadi gambaran siapa diri kita. Karena infromasi yang kita konsumsi akan menjadi pemikiran, pemikiran akan membentuk pemahaman, pemahaman digunakan sebagai kompas untuk melakukan aktivitas, aktivitas yang dilakukan terus menerus akan menjadi habits (kebiasaan).

Kebayang nggak seandainya setiap hari beramal dengan pemahaman yang salah? Bisa jadi amalan kita nggak diterima Allah karena salah satu syaratnya tidak terpenuhi yaitu beramal dengan cara yang benar. Dan beramal dengan benar tidak bisa instan, butuh belajar. Ngeri banget nggak tuh kalau amalan kita nggak diterima karena syaratnya belum lengkap? Maka satu hal yang harus menjadi perhatian adalah karakter instan tidak boleh dilekatkan pada setiap kesempatan. Sebab semua butuh proses, bahkan untuk memasak mie instan sekalipun juga butuh proses.

Hadirnya kita di dunia ini juga melewati proses yang panjang, butuh sembilan bulan di dalam kandungan sampai detik teman-teman lahir di dunia. Kemudian terus tumbuh berproses, dari bayi merah yang mungil, tumbuh menjadi anak kecil yang lucu, sampai saatnya menginjak usia baligh adalah proses yang Allah siapkan sebelum akhirnya Allah berikan kewajiban untuk mengemban dua visi: beribadah dan menjadi pemimpin bumi (ingat memimpin bumi ya, bukan cuma memimpin diri sendiri).
Sejak saat mencapai baligh, Allah catat semua amal perbuatan kita. Rasulullah bersabda: “Pena (pencatat amal) akan diangkat dari tiga orang, yaitu: dari orang yang tidur sampai dia bangun, dari anak-anak sampai dia balig, dan dari orang yang gila sampai dia sadar (berakal).” (HR. Ibnu Majah). Hadis ini menunjukkan bahwa anak-anak, orang gila, dan orang yang tidur tidaklah dibebani dengan perintah dan larangan (dalam agama). Ini adalah bagian dari bentuk rahmat dan kasih sayang Allah terhadap mereka.

Sehingga jika sobat sudah baligh, wajib untuk menaati apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang. Sehingga tidak bisa beramal seenaknya sendiri, karena setiap perbuatan kita ada hukumnya. Hai Sob, udah berapa tahun melewati fase baligh tapi masih gini-gini aja?
Sehingga alasan ogah ribet tidak bisa dijadikan dalih untuk tidak belajar agama Islam.

Ulama-ulama terdahulu mampu produktif menuliskan 40 lembar tulisan setiap hari (padahal zaman dahulu akses ilmu tidak semudah hari ini). Lha kok kita kajian sepekan sekali saja ogah-ogahan. Jangan heran jika kita kesulitan mengemban dua tugas yang sudah Allah tetapkan di dunia ini, karena kita nggak mau belajar Islam. Akibatnya kerusakan terus terjadi, karena tidak menggunakan manual book instruction dari pencipta bumi.

Sebagai contoh hari ini teknologi semakin maju, tapi moral bangsa juga semakin rusak. Agar kerusakan tidak semakin menjadi-jadi, sudah saatnya kita menggunakan Islam yang mengatur seluruh kehidupan kita, termasuk karakteristik keinstanan kita.

Sehingga tidak ada ceritanya pemuda yang terdistraksi dari visi hidupnya karena waktunya habis 10 jam di depan sosial media. Tidak ada orang yang salah fokus menggunakan internet sehingga terkena penyakit mental dan depresi.

Sobat, sadarilah bahwa Gen Z adalah cucunya para pemimpin. Nggak percaya? Coba lihat bio instagram teman-teman sobat sekalian, baru membuat komunitas kecil, sudah dituliskan founder komunitas A, ini menunjukkan bahwa karakter instan gen z tidak selamanya buruk, hanya saja karakter ini perlu dikelola dengan Islam. Sebab jika tidak kita akan senantiasa dieksploitasi oleh teknologi dan peradaban yang menaunginya.

Hari ini potensi pemuda yang penuh energi itu hanya disalurkan untuk joget-joget di depan tiktok, nongkrong di trotoar atau menyanyikan lagu patah hati. Padahal masa muda adalah masa yang paling berat pertanggungjawabannya. “Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan, serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR Tirmidzi)
Sedangkan dengan Islam, pemuda diaruskan untuk mencita-citakan kewajiban, karena saking sulitnya menjalankan kewajiban sampai harus dicita-citakan. Tak heran mereka mendapatkan predikat umat terbaik. Muhammad Al-Fatih misalnya karena beliau mengerti menaklukkan Konstantinopel tidaklah mudah, beliau mencita-citakan hal tersebut dan mengarahkan potensinya untuk dibina dengan Islam, dan dengan izin Allah, Konstantinopel takluk di tangan Muhammad Al Fatih.

Siapkah teman-teman untuk menjadi bagian dari pemuda yang mencita-citakan kewajiban yang Allah firmankan di dalam Alquran? Mengingat banyaknya kewajiban yang belum bisa terterapkan sehingga perlu diperjuangkan. Maka selamat belajar, selamat berjuang dan tetap semangat mencita-citakan kewajiban!

 

Sumber: Rahmad Taher

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
INFORMASI KELULUSAN TAHUN PELAJARAN 2025/2026

Berdasarkan kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, penetapan kelulusan peserta didik pada satuan pendidikan jenjang SMA/SMK Tahun Pelajar

03/05/2026 18:07 - Oleh RUDY S. MARPAUNG - Dilihat 851 kali
THE ADVENTURE OF RAMADHAN

KISARAN-Ramadan itu bukan bulan biasa. Ini bukan sekadar momen tahunan yang datang lalu pergi, bukan sekadar perubahan jam makan atau pindah jam tidur. Bukan juga sekadar “vibes r

19/02/2026 15:07 - Oleh RUDY S. MARPAUNG - Dilihat 3443 kali
UNDANGAN KULIAH RPL GURU NASIONAL 2026

LATAR BELAKANG Selama bertahun-tahun, guru di seluruh Indonesia telah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Mereka mengajar, membimbing, menyusun perangkat pembelajaran, mengikuti p

05/02/2026 10:34 - Oleh RUDY S. MARPAUNG - Dilihat 105 kali
Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H/2026 M se-Indonesia

KISARAN-Hadirnya bulan suci Ramadhan 1447 H tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan digelar menyambut bulan yang penuh keberkahan ini. Suara Muhammadiyah menyediakan jadwal imsakiya

04/02/2026 22:00 - Oleh RUDY S. MARPAUNG - Dilihat 554 kali
Jejak Abadi: Pengaruh Seorang Guru yang Baik Tidak Akan Pernah Bisa Terhapuskan

KISARAN-Ada sebuah kutipan terkenal dari Henry Adams yang berbunyi: "Seorang guru memengaruhi keabadian; ia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti." Kalimat ini bukan sekadar ra

29/01/2026 00:09 - Oleh RUDY S. MARPAUNG - Dilihat 3170 kali
Dari Roemah Miskin ke Gerakan Sosial: Sejarah Al-Ma’un Muhammadiyah

KISARAN-Tepat pada 13 Januari 1923, Muhammadiyah mendirikan Roemah Miskin (armen huis). Rumah Miskin ini merupakan gagasan bersejarah dari Kiai Sudja’ yang kala itu dibe

28/01/2026 23:04 - Oleh RUDY S. MARPAUNG - Dilihat 1359 kali
Integrasi Nilai-Nilai Isra Mikraj dalam Pendidikan Berkemajuan Muhammadiyah

Oleh :HAZLANYAH RAMELAN, M.Si.Kepala SMK Muhammadiyah 5 Kisaran. KISARAN-Peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan malam spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidi

15/01/2026 23:04 - Oleh RUDY S. MARPAUNG - Dilihat 3697 kali
Memaknai Pergantian Tahun: Refleksi dan Muhasabah dalam Bingkai Islam

Oleh :Hazlansyah Ramelan, M.Si.(Kepala SMK Muhammadiyah 5 Kisaran) Momen pergantian tahun seringkali identik dengan perayaan meriah, kembang api, dan hiruk-pikuk keramaian. Namun, bagi

31/12/2025 18:51 - Oleh RUDY S. MARPAUNG - Dilihat 2408 kali
Transformasi Pendidikan Vokasi: Seberapa Vital AI bagi Siswa SMK Bisnis dan Manajemen?

KISARAN-Di era Revolusi Industri 4.0 yang kini beranjak menuju 5.0, lanskap dunia kerja mengalami pergeseran seismik. Perubahan ini tidak hanya terjadi di sektor teknologi murni, tetapi

29/11/2025 23:31 - Oleh RUDY S. MARPAUNG - Dilihat 1911 kali
Di Balik Papan Tulis: Ode untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

KISARAN-Setiap tanggal 25 November, lini masa media sosial kita mungkin dipenuhi dengan ucapan terima kasih, foto-foto nostalgia masa sekolah, dan lirik lagu Hymne Guru. Namun, di balik

25/11/2025 14:12 - Oleh RUDY S. MARPAUNG - Dilihat 2931 kali