Cium Tangan dengan Hidung, Bukan dengan Pipi
Bersalaman dan mencium tangan para kiai dan orang tua adalah hal yang sering kita jumpai. Mencium tangan mereka bukan berarti mengkultuskannya. Akan tetapi, lebih karena menghormati kealiman, kezuhudan, dan ke-wara’-annya.
Namun, dalam praktiknya masih banyak masyarakat yang tidak benar dalam bersalaman dan mencium tangan. Sebagian mereka, bersalaman dengan tidak mencium tangan namun menempelkan pipi ke tangan.
Terkadang juga ada yang malah mencium tangannya sendiri saat bersalaman dengan orang tua. Kebiasan yang tidak tepat ini juga dianggap hal yang biasa saja, sehingga anak-anak pun dididik dengan cara bersalaman dengan menempelkan pipi. Bukan mencium dengan hidung.
Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf dalam sebuah video mempraktikkan bagaimana cara bersalaman dengan baik dan benar. Ia mempraktikkannya bersama cucu tercinta, Muhammad Hadi Assegaf.
"Sekarang banyak orang yang salaman keliru. Masa salaman pakai pipi. Itu bukan mencium. Tapi menempelkan tangan ke pipi. Kalau mencium ya pakai hidung," jelas Habib Syech seraya mempraktikkannya. Dalam video tersebut, Habib Muhammad Hadi mempraktikkan salaman dengan memegang erat tangan Habib Syech kemudian menundukkan kepala dan mencium tangan kakeknya penuh takdzim. "Barakallahu fik," ucap Habib Syech seusai bersalaman.
Bersalaman dengan mencium tangan juga pernah dilakukan oleh para sahabat Nabi. Ibnu Umar RA, misalnya, dalam sebuah hadits riwayat Abu Dawud pernah ikut dalam salah satu pasukan infanteri Rasulullah SAW.
Lalu, Ibnu Umar menuturkan sebuah kisah dan berkata: “Kemudian kami mendekati Nabi SAW dan mengecup tangannya”.
Para ulama dari empat madzhab sendiri tidak ada yang menghukumi bersalaman dengan mencium tangan hukumnya haram. Ulama mazhab Syafi’i menghukuminya sunnah. Ulama mazhab Hanafi dan Hanbali menghukuminya mubah.
Sementara ulama mazhab Maliki menghukuminya makruh jika tujuannya untuk kesombongan. Namun, jika tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan didasari agama, ilmu, atau kemuliaan pemilik tangan, maka hukumnya mubah. Mencium tangan lebih tepat diartikan sebagai penghormatan kepada orang yang dicium atas dasar ilmu dan kemuliaan yang Allah SWT titipkan kepadanya. Karena itu, para sahabat dahulu terbiasa mencium tangan Rasulullah SAW.
Sumber: Muhammadi Faizin
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
UNDANGAN KULIAH RPL GURU NASIONAL 2026
LATAR BELAKANG Selama bertahun-tahun, guru di seluruh Indonesia telah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Mereka mengajar, membimbing, menyusun perangkat pembelajaran, mengikuti p
Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H/2026 M se-Indonesia
KISARAN-Hadirnya bulan suci Ramadhan 1447 H tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan digelar menyambut bulan yang penuh keberkahan ini. Suara Muhammadiyah menyediakan jadwal imsakiya
Jejak Abadi: Pengaruh Seorang Guru yang Baik Tidak Akan Pernah Bisa Terhapuskan
KISARAN-Ada sebuah kutipan terkenal dari Henry Adams yang berbunyi: "Seorang guru memengaruhi keabadian; ia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti." Kalimat ini bukan sekadar ra
Dari Roemah Miskin ke Gerakan Sosial: Sejarah Al-Ma’un Muhammadiyah
KISARAN-Tepat pada 13 Januari 1923, Muhammadiyah mendirikan Roemah Miskin (armen huis). Rumah Miskin ini merupakan gagasan bersejarah dari Kiai Sudja’ yang kala itu dibe
Integrasi Nilai-Nilai Isra Mikraj dalam Pendidikan Berkemajuan Muhammadiyah
Oleh :HAZLANYAH RAMELAN, M.Si.Kepala SMK Muhammadiyah 5 Kisaran. KISARAN-Peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan malam spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidi
Memaknai Pergantian Tahun: Refleksi dan Muhasabah dalam Bingkai Islam
Oleh :Hazlansyah Ramelan, M.Si.(Kepala SMK Muhammadiyah 5 Kisaran) Momen pergantian tahun seringkali identik dengan perayaan meriah, kembang api, dan hiruk-pikuk keramaian. Namun, bagi
Transformasi Pendidikan Vokasi: Seberapa Vital AI bagi Siswa SMK Bisnis dan Manajemen?
KISARAN-Di era Revolusi Industri 4.0 yang kini beranjak menuju 5.0, lanskap dunia kerja mengalami pergeseran seismik. Perubahan ini tidak hanya terjadi di sektor teknologi murni, tetapi
Di Balik Papan Tulis: Ode untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
KISARAN-Setiap tanggal 25 November, lini masa media sosial kita mungkin dipenuhi dengan ucapan terima kasih, foto-foto nostalgia masa sekolah, dan lirik lagu Hymne Guru. Namun, di balik
Ketika Pak AR Berhasil “Memuhammadiyahkan” Warga NU Secara Massal
Di Yogyakarta, 14 Februari 1916, lahirlah seorang lelaki yang kelak dikenal sebagai maestro dakwah yang halus tapi nendang: Abdul Rozak (A.R.) Fachruddin. Putra pasangan K
Transformasi Pendidikan: Mengapa Artificial Intelligence (AI) Vital untuk Masa Depan Pembelajaran
KISARAN-Dunia pendidikan sedang berada di ambang revolusi besar. Jika dahulu teknologi pendidikan hanya sebatas penggunaan proyektor atau komputer di laboratorium, kini kita menghadapi

