Haruskah Membuat Target dalam Beribadah di Bulan Ramadan?
Membaca judul di atas, pasti ada dari beberapa kita yang langsung mengernyitkan alis mata sambil membatin, "Ibadah kok diberi target?! Sepertinya kurang ikhlas tuh!". Entah itu kalimat tanya, kalimat oratoris atau bisa juga hanya sekedar pelepas ketidakpahaman diri.
Sebetulnya, semua aktivitas apa pun di dunia ini, pastilah mempunyai target atau tahapan yang harus dicapai sebelum melanjutkan ke tahapan berikutnya dan setelah itu di akhir kegiatan, tentu juga harus dievaluasi sampai seberapa jauh keberhasilan kita dalam mencapai target yang sudah dibuat.
Lha target ibadah itu apa juga?
Wah, jika ada pertanyaan seperti itu, bisa-bisa antara pertanyaan dan jawaban akan saling tukar dan berpindah tempat ibarat sulit meyakini mana garis start dan mana yang finish-nya. Mana telur atau kah ayam yang duluan?
Jadi, target ibadah itu sejatinya relatif dan bisa disebut sebagai hal yang mengada-ada. Justru, yang bagus sebenarnya adalah target akan aktivitas diri yang medukung akan kekhusyukan kita dalam beribadah, itu yang harus digiatkan.
Pun untuk itu, pertama, ya coba dikembalikan ke diri sendiri dahulu. Jika, ada pertanyaan, Anda itu menjalankan salah satu ibadah rukun Islam, yaitu Puasa, apakah ingin mendapat pahala atau masuk Surga?
Pasti jawabannya bermacam-macam. Ada yang ingin mendapat pahala, ada yang ingin masuk Surga, bahkan ada yang sedikit serakah dengan menjawab, ingin mendapat pahala sekaligus masuk Surga. Sah-sah saja sih apa pun pilihan jawabannya.
Padahal, semua pilihan jawaban di atas tersebut adalah tidak benar. Siapa juga yang mau memberi Pahala. Juga, nggak ada tuh, jika berpuasa pasti kelak akan masuk Surga. Ingat sekali lagi bahwa kita semua diperintahkan untuk berpuasa itu hanya agar kita termasuk dalam golongan kaum yang bertaqwa. (Q.S. Al Baqarah Ayat 183).
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
yâ ayyuhalladzîna âmanû kutiba ‘alaikumush-shiyâmu kamâ kutiba ‘alalladzîna ming qablikum la‘allakum tattaqûn
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Saat kita memilih Pahala atau Surga dari pertanyaan di atas, sebetulnya tanpa disadari, diri kita telah membuat target dalam beribadah. Target di situ disebut komitmen diri dari niat kita sejak awal. Apabila target yang sudah dibuat tidak terwujud dalam pelaksanaannya, janganlah kemudian merasa bersalah, putus asa atau apalagi merasa berdosa.
Targetnya seperti apa?
Sudahlah, tidak usah terlalu muluk-muluk dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan ini. Berpuasa penuh selama 30 hari, membaca Al Qur'an dan khatam minimal sekali, syukur bisa dua kali atau belajar menulis seni kaligrafi dan lainnya adalah target yang kelihatannya sederhana, namun banyak yang juga gagal dalam mencapainya.
Pada bulan Ramadan yang suci ini, ikuti dan perhatikan pada hal-hal apa saja yang bisa membatalkan ibadah puasa, perbuatan apa saja yang bisa memberikan nilai kemuliaan diri, sunnah apa saja yang disarankan. Itu saja sudah dianggap target yang lebih untuk diri sendiri.
Target atau komitmen sederhana dan mulia yang terpatri dalam relung sanubari hati agar bisa terrefleksi dalam tindakan diri sendiri atau kepada orang lain, kunci utamanya terletak pada kesucian hati diri sendiri. Hilangkan perasaan dendam, benci, iri, prasangka buruk, sombong, putus asa, rendah diri, dengki dan malas di bulan suci Ramadan ini agar ibadah puasa kita mencapai derajat tinggi adalah target yang mulia juga.
Terakhir, setiap orang pastilah mempunyai target di bulan Ramadan ini termasuk saya sendiri. Mau tahu? Saya ingin dalam menjalankan ibadah salat tarawih, selalu berpindah masjid atau mushola di lingkungan setiap malamnya. Mampu nggak, ya!?
Bagaimana dengan target Anda di bulan Ramadan ini?
Sumber: ramadan.kompasiana.com
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
INFORMASI KELULUSAN TAHUN PELAJARAN 2025/2026
Berdasarkan kebijakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, penetapan kelulusan peserta didik pada satuan pendidikan jenjang SMA/SMK Tahun Pelajar
THE ADVENTURE OF RAMADHAN
KISARAN-Ramadan itu bukan bulan biasa. Ini bukan sekadar momen tahunan yang datang lalu pergi, bukan sekadar perubahan jam makan atau pindah jam tidur. Bukan juga sekadar “vibes r
UNDANGAN KULIAH RPL GURU NASIONAL 2026
LATAR BELAKANG Selama bertahun-tahun, guru di seluruh Indonesia telah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Mereka mengajar, membimbing, menyusun perangkat pembelajaran, mengikuti p
Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H/2026 M se-Indonesia
KISARAN-Hadirnya bulan suci Ramadhan 1447 H tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan digelar menyambut bulan yang penuh keberkahan ini. Suara Muhammadiyah menyediakan jadwal imsakiya
Jejak Abadi: Pengaruh Seorang Guru yang Baik Tidak Akan Pernah Bisa Terhapuskan
KISARAN-Ada sebuah kutipan terkenal dari Henry Adams yang berbunyi: "Seorang guru memengaruhi keabadian; ia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti." Kalimat ini bukan sekadar ra
Dari Roemah Miskin ke Gerakan Sosial: Sejarah Al-Ma’un Muhammadiyah
KISARAN-Tepat pada 13 Januari 1923, Muhammadiyah mendirikan Roemah Miskin (armen huis). Rumah Miskin ini merupakan gagasan bersejarah dari Kiai Sudja’ yang kala itu dibe
Integrasi Nilai-Nilai Isra Mikraj dalam Pendidikan Berkemajuan Muhammadiyah
Oleh :HAZLANYAH RAMELAN, M.Si.Kepala SMK Muhammadiyah 5 Kisaran. KISARAN-Peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan malam spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidi
Memaknai Pergantian Tahun: Refleksi dan Muhasabah dalam Bingkai Islam
Oleh :Hazlansyah Ramelan, M.Si.(Kepala SMK Muhammadiyah 5 Kisaran) Momen pergantian tahun seringkali identik dengan perayaan meriah, kembang api, dan hiruk-pikuk keramaian. Namun, bagi
Di Balik Papan Tulis: Ode untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
KISARAN-Setiap tanggal 25 November, lini masa media sosial kita mungkin dipenuhi dengan ucapan terima kasih, foto-foto nostalgia masa sekolah, dan lirik lagu Hymne Guru. Namun, di balik
Ketika Pak AR Berhasil “Memuhammadiyahkan” Warga NU Secara Massal
Di Yogyakarta, 14 Februari 1916, lahirlah seorang lelaki yang kelak dikenal sebagai maestro dakwah yang halus tapi nendang: Abdul Rozak (A.R.) Fachruddin. Putra pasangan K

