GUBERNUR "KULI PASAR"
Keberadaan seorang pemimpin dalam sebuah wilayah itu emang wajib. Gak bisa dinafikan. Agar rakyat ada yang mengayomi, melindungi, dan memenuhi kebutuhan pokoknya. Nggak heran kalo pertanggungjawaban seorang pemimpin dalam Islam nggak cuman di dunia tapi juga di akhirat.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya kepemimpinan merupakan sebuah amanah, di mana kelak di hari kiamat akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan. Kecuali mereka yang melaksanakannya dengan cara baik, serta dapat menjalankan amanahnya sebagai pemimpin." (HR Muslim)
Seperti apa gambaran pemimpin yang amanah dalam Islam? Simak kisah inspiratif berikut.
Pemimpin Amanah dari Persia
Pada masa pemerintahan Umar bin Khaththab, Salman Al Farisi mendaftarkan diri untuk ikut dalam ekspedisi militer ke Persia. Ia ingin membebaskan bangsanya dari genggaman kelaliman Kisra, Imperium Persia yang mencekik rakyatnya dengan penindasan dan kekejaman. Untuk membangun istana Kisra saja, ribuan rakyat jelata terpaksa dikorbankan, tidak setitik pun rasa iba terselip di hati sang raja.
Di bawah pimpinan Panglima Saad bin Abi Waqqash, tentara muslim akhirnya berhasil menduduki Persia, dan menuntun rakyatnya dengan bijaksana menuju kedamaian Islam. Di Qadisiyah, keberanian dan keperwiraan Salman Al Farisi sungguh mengagumkan sehingga kawan dan lawan menaruh hormat padanya.
Tapi bukan itu yang membuat Salman meneteskan air mata, keharuan pada waktu ia menerima kedatangan kurir Khalifah dari Madinah. Ia merasa jasanya belum seberapa besar, namun Khalifah telah dengan teguh hati mengeluarkan keputusan bahwa Salman diangkat menjadi amir di negeri Madain.
Umar secara bijak telah mengangkat seorang amir yang berasal dari suku dan daerah setempat. Oleh sebab itu, ia tidak ingin mengecewakan pimpinan yang memilihnya, lebih-lebih ia tidak ingin dimurkai Allah karena tidak menunaikan kewajibannya secara bertanggung jawab.
Maka Salman pun berbaur di tengah masyarakat tanpa menampilkan diri sebagai seorang amir. Sehingga banyak yang tidak tahu bahwa yang sedang keluar masuk pasar, yang duduk-duduk di kedai, bercengkrama dengan para kuli itu adalah sang gubernur.
Pemimpin ‘Kuli Pasar’, Bukan Pencitraan!
Pada suatu siang yang terik, seorang pedagang dari Syam sedang kerepotan mengurus barang bawaannya. Tiba-tiba ia melihat seorang pria bertubuh kekar dengan pakaian lusuh. Orang itu segera dipanggilnya; "Hai, kuli, kemari! Bawakan barang ini ke kedai di seberang jalan itu." Tanpa membantah sedikit pun, dengan patuh pria berpakaian lusuh itu mengangkut bungkusan berat dan besar tersebut ke kedai yang dituju.
Saat sedang menyeberang jalan, seseorang mengenali kuli tadi. Ia segera menyapa dengan hormat, "Wahai Amir. Biarlah saya yang mengangkatnya." Si pedagang terperanjat seraya bertanya pada orang itu, "Siapa dia? Mengapa seorang kuli kau panggil Amir?". Ia menjawab, "Tidak tahukah Anda, kalau orang itu adalah gubernur kami?". Dengan tubuh lemas seraya membungkuk-bungkuk ia memohon maaf pada 'kuli upahannya' yang ternyata adalah Salman Al Farisi.
"Ampunilah saya, Tuan. Sungguh saya tidak tahu bahwa Tuan adalah amir negeri Madain." ucap si pedagang.
"Letakkanlah barang itu, Tuan. Biarlah saya yang mengangkutnya sendiri." Salman menggeleng, "Tidak, pekerjaan ini sudah aku sanggupi sejak awal, dan aku akan membawanya sampai ke kedai yang kau maksudkan.
Setelah sekujur badannya penuh dengan keringat, Salman menaruh barang bawaannya di kedai itu, ia lantas berkata, "Kerja ini tidak ada hubungannya dengan jabatanku. Aku sudah berjanji mengangkat barang ini kemari. Maka aku wajib melaksanakannya hingga selesai. Bukankah merupakan kewajiban setiap umat Islam untuk meringankan beban saudaranya?"
Pedagang itu hanya menggeleng. Ia tidak mengerti bagaimana seorang berpangkat tinggi bersedia disuruh sebagai kuli. Mengapa tidak ada pengawal atau tanda-tanda kebesaran yang menunjukkan kalau ia seorang gubernur?
Ia barangkali belum tahu, begitulah seharusnya sikap seorang pemimpin menurut ajaran Islam. Tidak bersombong diri dengan kedudukannya, namun ia dituntut merendah di depan rakyatnya. Karena sejatinya, menjadi pemimpin adalah pelayan. Ya seperti, Salman Al Farisi, Gubernur Zuhud yang menjadi kuli di Pasar.
Pemimpin Sejati Pelayan Rakyat
Apa yang dilakukan Salman Al-Farisi bisa menjadi gambaran kalo dalam Islam, seorang pemimpin sejatinya adalah pelayan rakyat. Bukan petugas partai. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah SAW, Pemimpin suatu kaum hakikatnya adalah pelayan mereka (HR Abu Nu'aim).
Sebagai pelayan rakyat, seorang pemimpin dalam Islam nggak gila hormat. Apalagi sampai minta previllage untuk kepentingan pribadi demi menebus ongkos politiknya. Yang ada, dia berusaha semaksimal mungkin memberikan pelayanan terbaik untuk mengurusi rakyatnya. Meski harus terjun ke pelosok seperti dilakukan khalifah Umah bin Khaththab untuk mengetahui langsung kondisi rakyatnya.
Ibaratnya petugas pemadam kebakaran, seorang pemimpin yang amanah sepatutnya siap 24 jam untuk memastikan rakyatnya tidak terzhalimi. Bukan untuk memenuhi janji-janji surga saat kampanye, tapi menunaikan kewajiban yang Allah swt bebankan kepadanya. Rasulullah saw mengingatkan, Tidaklah seorang hamba diserahi oleh Allah urusan rakyat, kemudian dia mati, sedangkan dia menelantarkan urusan tersebut, kecuali Allah mengharamkan surga untuk dirinya (HR Muslim).
Terkait dengan hadis di atas, Imam an-Nawawi, di dalam Syarh Shahîh Muslim, mengutip pernyataan Fudhail bin Iyadh, "Hadis ini merupakan ancaman bagi siapa saja yang diserahi Allah SWT untuk mengurus urusan kaum Muslim, baik urusan agama maupun dunia, kemudian ia berkhianat. Jika seseorang berkhianat terhadap suatu urusan yang telah diserahkan kepada dirinya maka ia telah terjatuh pada dosa besar dan akan dijauhkan dari surga. Penelantaran itu bisa berbentuk tidak menjelaskan urusan-urusan agama kepada umat, tidak menjaga syariah Allah dari unsur-unsur yang bisa merusak kesuciannya, mengubah-ubah makna ayat-ayat Allah dan mengabaikan hudûd (hukum-hukum Allah). Penelantaran itu juga bisa berwujud pengabaian terhadap hak-hak umat, tidak menjaga keamanan mereka, tidak berjihad untuk mengusir musuh-musuh mereka dan tidak menegakkan keadilan di tengah-tengah mereka. Setiap orang yang melakukan hal ini dipandang telah mengkhianati umat."
Emang saat ini belum ada lagi figur pemimpin amanah layaknya Salman al-Farisi atau Khulafaur Rasyidin. Tapi bukan berarti tak mungkin ada generasi penggantinya. Para pemimpin amanah itu lahir dari kehidupan yang Islami. Karena itu, untuk mempersiapkan generasi pemimpin yang amanah kita mesti berjuang bersama-sama untuk melangsungkan kembali kehidupan Islam. Kuy![]
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
UNDANGAN KULIAH RPL GURU NASIONAL 2026
LATAR BELAKANG Selama bertahun-tahun, guru di seluruh Indonesia telah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Mereka mengajar, membimbing, menyusun perangkat pembelajaran, mengikuti p
Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H/2026 M se-Indonesia
KISARAN-Hadirnya bulan suci Ramadhan 1447 H tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan digelar menyambut bulan yang penuh keberkahan ini. Suara Muhammadiyah menyediakan jadwal imsakiya
Jejak Abadi: Pengaruh Seorang Guru yang Baik Tidak Akan Pernah Bisa Terhapuskan
KISARAN-Ada sebuah kutipan terkenal dari Henry Adams yang berbunyi: "Seorang guru memengaruhi keabadian; ia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti." Kalimat ini bukan sekadar ra
Dari Roemah Miskin ke Gerakan Sosial: Sejarah Al-Ma’un Muhammadiyah
KISARAN-Tepat pada 13 Januari 1923, Muhammadiyah mendirikan Roemah Miskin (armen huis). Rumah Miskin ini merupakan gagasan bersejarah dari Kiai Sudja’ yang kala itu dibe
Integrasi Nilai-Nilai Isra Mikraj dalam Pendidikan Berkemajuan Muhammadiyah
Oleh :HAZLANYAH RAMELAN, M.Si.Kepala SMK Muhammadiyah 5 Kisaran. KISARAN-Peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan malam spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidi
Memaknai Pergantian Tahun: Refleksi dan Muhasabah dalam Bingkai Islam
Oleh :Hazlansyah Ramelan, M.Si.(Kepala SMK Muhammadiyah 5 Kisaran) Momen pergantian tahun seringkali identik dengan perayaan meriah, kembang api, dan hiruk-pikuk keramaian. Namun, bagi
Transformasi Pendidikan Vokasi: Seberapa Vital AI bagi Siswa SMK Bisnis dan Manajemen?
KISARAN-Di era Revolusi Industri 4.0 yang kini beranjak menuju 5.0, lanskap dunia kerja mengalami pergeseran seismik. Perubahan ini tidak hanya terjadi di sektor teknologi murni, tetapi
Di Balik Papan Tulis: Ode untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
KISARAN-Setiap tanggal 25 November, lini masa media sosial kita mungkin dipenuhi dengan ucapan terima kasih, foto-foto nostalgia masa sekolah, dan lirik lagu Hymne Guru. Namun, di balik
Ketika Pak AR Berhasil “Memuhammadiyahkan” Warga NU Secara Massal
Di Yogyakarta, 14 Februari 1916, lahirlah seorang lelaki yang kelak dikenal sebagai maestro dakwah yang halus tapi nendang: Abdul Rozak (A.R.) Fachruddin. Putra pasangan K
Transformasi Pendidikan: Mengapa Artificial Intelligence (AI) Vital untuk Masa Depan Pembelajaran
KISARAN-Dunia pendidikan sedang berada di ambang revolusi besar. Jika dahulu teknologi pendidikan hanya sebatas penggunaan proyektor atau komputer di laboratorium, kini kita menghadapi

