STMIK Royal Kisaran Go To School Pendidikan Karakter di SMK Muhammadiyah 5 Kisaran
Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer (STMIK) Royal Kisaran melaksanakan prorgam Go To School Pendidikan Karakter untuk SMA/SMK Se Kabupaten Asahan, kali ini tim menyambangi SMK Muhammadiyah 5 Kisaran untuk melakukan sosialisasi Pendidikan Karakter, Sabtu. 05/11/2022.
Kegiatan sosialisasi Pendidikan Karakter dilaksanakan di Aula SMK Muhammadiyah 5 Kisaran dengan peserta seluruh siswa dan siswi Kelas 10 berjumlah lebih kurang 80 orang.
Kepala SMK Muhammadiyah 5 Kisaran Hazlansyah Ramelan, M.Si dalam sambutannya menyampaikan bahwa pendidikan karakter menjadi salah satu prioritas pemerintah Indonesia. Sebab, pendidikan karakter merupakan langkah penting untuk menunjang kesuksesan seseorang di masa depan. Adapun aspek pendidikan karakter adalah moralitas dan relgius dan psikologi dan manfaat pendidikan karekter bagi siswa siswi SMK Muhammadiyah 5 Kisaran adalah Pendidikan karakter melahirkan individu yang maju, mandiri, dan kokoh dalam menggenggam prinsip.
Beliau juga menambahkan bahwa menjadi benteng dalam memerangi berbagai perilaku berbahaya serta membantu mempersiapkan anak menghadapi banyak peluang di masyarakat. Menjadikan seseorang tangguh menghadapi segala masalah dan bijak menerapkan keadilan dan terakhir. Pendidikan karakter melahirkan individu yang maju, mandiri, dan kokoh dalam menggenggam prinsip. Menjadikan benteng dalam memerangi berbagai perilaku berbahaya serta membantu mempersiapkan diri kita menghadapi banyak peluang di masyarakat.
dan menjadikan seseorang tangguh menghadapi segala masalah dan bijak menerapkan keadilan. There is nothing higher than science but a good character.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Hazlansyah juga mengucapkan terima kasih kepada STMIK Royal Kisaran yang telah menjadikan SMK Muhammadiyah 5 Kisaran salah satu sekolah untuk melaksanakan Program Go To School Pendidikan Karakter untuk SMA/SMK Se Kabupaten Asahan pada tahun 2022.

Pemateri pertama Adimas Afandi menyampaikan bahwa pendidikan sejatinya adalah usaha yang terencana dan sistematis dalam rangka mengoptimalkan semua potensi manusia/peserta didik. Potensi manusia itu termasuk di dalamnya adalah karakter manusia. Kesadaran akan kebutuhan karakter baik dalam kehidupan bermsyarakat kini makin menguat, di sisi lain, keluarga sebagai agen utama Pendidikan dirasa tidak cukup kuat untuk mejalankan fungsi pembangunan karakter setiap anak, sehingga dibutuhkanlah peran serta sekolah sebagai institusi Pendidikan untuk dapat secara aktif dan sistematis menumbuhkembangkan karakter baik pada setiap peserta didik.
Secara konseptual, Pendidikan karakter sendiri memiliki banyak konsep. Namun, salah satu yang paling popular adalah konsep Pendidikan karakter yang diungkapkan oleh Thomas Lickona. Lickona menjelaskan bahwa Pendidikan Karakter mengandung tiga unsur yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good) dan melakukan kebaikan (doing the good). Lickona menetapkan tujuh unsur-unsur karakter dasar yang harus ditanamkan kepada peserta didik meliputi:
- Ketulusan hati atau kejujuran (honesty)
- Belas kasih (compassion)
- Kegagahberanian (courage)
- Kasih sayang (kindness)
- Kontrol diri (self-control)
- Kerja sama (cooperation)
- Kerja Keras (diligence or hard work)
Penguatan Pendidikan Karakter dijelaskan bahwa PPK dilaksanakan dengan menerapkan delapan belas nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan karakter terutama meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab.
Dalam operionalisasinya, di tingkat satuan Pendidikan, PPK dilaksanakan secara integral dalam kegiatan intrakurikuler, yaitu penguatan nilai-nilai karakter melalui kegiatan penguatan materi pembelajaran, metode pembelajaran sesuai dengan muatan kurikulum. Kemudian melalui kegiatan kokurikuler yaitu penguatan nilai-nilai karakter yang dilaksanakan untuk pendalaman dan/atau pengayaan dan extrakulikuler, yaitu penguatan nilai-nilai karakter dalam rangka perluasan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerja sama, dan kemandirian Peserta Didik secara optimal. Kegiatan-kegiatan dalam rangka PPK dapat dilaksanakan baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Kegiatan ekstrakurikuler dapat berupa kegiatan krida, karya ilmiah, latihan olah bakat/olah minat, dan kegiatan keagamaan, serta kegiatan penghayatan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Untuk materi selanjutnya disampaikan oleh Ninda Julianda, beliau mengatakan Ki Hajar Dewantara, menjelaskan bahwa penumbuhan nilai karakter dapat dijalankan melalui empat laku, yaitu olah hati, olah raga, olah karsa dan olah pikir. Untuk itu diperlukan penerjemahan gerakan PPK kedalam aktivitas di sekolah. Dalam pelaksanaan kegiatan sehari-hari di sekolah, penanaman nilai-nilai karakter dapat dilakukan dalam beberapa bentuk kegiatan, meliputi:
1. Literasi sekolah
Kegiatan literasi ini bertujuan membangun budaya literasi di sekolah. Artinya tidak hanya pada siswa saja. Namun ekosistem sekolah. Untuk itu, tidak hanya sebatas penyediaan pojok baca atau aktivitas membaca buku 15 menit sebelum proses kelas dimulai. Namun, lebih luas lagi, berupa penumbuhan budaya literasi di semua warga sekolah, termasuk orang tua siswa. Penyediaan sarana berupa bahan bacaan yang beragam, forum diskusi bagi guru dan tenaga kependidikan untuk membangun literasi juga harus dilakukan sekolah. Kegiatan literasi ini dapat diintegrasikan juga dalam proses pembelajaran, intrakurikuler, kokurikuler dan extrakurikuler.
2. Kegiatan extrakurikuler
Seiring dengan pengarusutamaan Pendidikan karakter di sekolah, pandangan bahwa extra kurikuler adalah sekedar pelengkap harus sudah diubah menjadi bahwa kegiatan extrakurikuler adalah bagian teerintegrasi dari system Pendidikan di sekolah guna memfasilitasi keragaman bakat, minat dan potensi siswa. Untuk itu, penyediaan Pembina extra kurikuler yang sesuai menjadi penting untuk dilakukan oleh manajemen sekolah.
3. Kegiatan awal dan akhir pembelajaran
Kegiatan awal dan akhir pembelajaran sebenarnya hanya pembagian berdasarkan urutan waktu saja. Sejatinya dua kegiatan tersebut adalah juga kegiatan pembelajaran itu sendiri. Maka tidak dapat dianggap sebagai pelengkap. Penyiapan scenario pembalajaran dari awal hingga akhir harus betul-betul dipehatikan. Mulai dari pengkondisian siswa, berdoa, apersepsi, hingga refleksi dan penutup memiliki nilai yang sama pentingnya.

4. Pembiasaan
Pembiasaan adalah bagian penting dari proses penanaman karakter pada peserta didik. Anak didik yang terbiasa melakukan pekerjaan secara mandiri maka akan terbangun karakter kemandirian pada dirinya. Demikian halnya dengan karakter berupa kemampuan untuk berkolaborasi dengan yang lain bukanlah karakter yang lahir tiba-tiba. Untuk itu, perlu scenario-skenario yang disiapkan dalam pembelajaran untuk membangun nilai-nilai yang diinginkan. Kebiasan memberikan tugas berkelompok dengan memberi giliran kepada setiap anggota kelompok untuk menjadi ketau kelompok adalah salah satu contoh untuk pembiasaan setiap anak didik berlatih bertanggungjawab sekaligus berkolaborasi.
5. Penetapan tata tertib sekolah
Buatlah tata tertib sekolah dengan jelas dan terpakan secara konsisten. Juga cobalah ajak siswa untuk menyepakati tata tertib di kelas. Penghargaan pada sebuah kesepatan dan keteraturan dapat dilatihkan pada peserta didik dengan mengenalkan siswa pada tata tertib sekolah atau kelas yang diulang-ulang secara rutin kepada siswa. Pemberlakuan model reward-and-punishment atau reward-unreward juga dapat diterapkan pada peserta didik untuk menghargai tata tertib sekolah.
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
UNDANGAN KULIAH RPL GURU NASIONAL 2026
LATAR BELAKANG Selama bertahun-tahun, guru di seluruh Indonesia telah mengabdikan diri dalam dunia pendidikan. Mereka mengajar, membimbing, menyusun perangkat pembelajaran, mengikuti p
Download Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H/2026 M se-Indonesia
KISARAN-Hadirnya bulan suci Ramadhan 1447 H tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan digelar menyambut bulan yang penuh keberkahan ini. Suara Muhammadiyah menyediakan jadwal imsakiya
Jejak Abadi: Pengaruh Seorang Guru yang Baik Tidak Akan Pernah Bisa Terhapuskan
KISARAN-Ada sebuah kutipan terkenal dari Henry Adams yang berbunyi: "Seorang guru memengaruhi keabadian; ia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti." Kalimat ini bukan sekadar ra
Dari Roemah Miskin ke Gerakan Sosial: Sejarah Al-Ma’un Muhammadiyah
KISARAN-Tepat pada 13 Januari 1923, Muhammadiyah mendirikan Roemah Miskin (armen huis). Rumah Miskin ini merupakan gagasan bersejarah dari Kiai Sudja’ yang kala itu dibe
Integrasi Nilai-Nilai Isra Mikraj dalam Pendidikan Berkemajuan Muhammadiyah
Oleh :HAZLANYAH RAMELAN, M.Si.Kepala SMK Muhammadiyah 5 Kisaran. KISARAN-Peristiwa Isra Mikraj bukan sekadar perjalanan malam spiritual Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidi
Memaknai Pergantian Tahun: Refleksi dan Muhasabah dalam Bingkai Islam
Oleh :Hazlansyah Ramelan, M.Si.(Kepala SMK Muhammadiyah 5 Kisaran) Momen pergantian tahun seringkali identik dengan perayaan meriah, kembang api, dan hiruk-pikuk keramaian. Namun, bagi
Transformasi Pendidikan Vokasi: Seberapa Vital AI bagi Siswa SMK Bisnis dan Manajemen?
KISARAN-Di era Revolusi Industri 4.0 yang kini beranjak menuju 5.0, lanskap dunia kerja mengalami pergeseran seismik. Perubahan ini tidak hanya terjadi di sektor teknologi murni, tetapi
Di Balik Papan Tulis: Ode untuk Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
KISARAN-Setiap tanggal 25 November, lini masa media sosial kita mungkin dipenuhi dengan ucapan terima kasih, foto-foto nostalgia masa sekolah, dan lirik lagu Hymne Guru. Namun, di balik
Ketika Pak AR Berhasil “Memuhammadiyahkan” Warga NU Secara Massal
Di Yogyakarta, 14 Februari 1916, lahirlah seorang lelaki yang kelak dikenal sebagai maestro dakwah yang halus tapi nendang: Abdul Rozak (A.R.) Fachruddin. Putra pasangan K
Transformasi Pendidikan: Mengapa Artificial Intelligence (AI) Vital untuk Masa Depan Pembelajaran
KISARAN-Dunia pendidikan sedang berada di ambang revolusi besar. Jika dahulu teknologi pendidikan hanya sebatas penggunaan proyektor atau komputer di laboratorium, kini kita menghadapi

